Archive for August, 2008

Orang IT ber-EQ rendah?

Saturday, August 30th, 2008

Ini artikel saya copy paste dari web Bisnis Indonesia. Link aslinya ada di bawah. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tanya:

Pak Anthony Dio Martin,

Saya pernah mendengar Anda membahas di siaran radio soal orang IT (information technology) yang EQ (kecerdasan emosional)-nya rendah. Saya pun punya masalah yang sama. Seorang manajer di tempat kami yang berada di IT, orangnya pinter tapi kemampuan sosialnya kurang. Kalau bicara, sering saya tidak paham, begitu juga yang lainnya. Jadinya seringkali terjadi perdebatan.

Tadinya kupikir saya yang kurang pintar. Masalahnya, dia pegang sistem yang penting yang jadi jantungnya perusahaan. Orangnya pun saya lihat tidak suka berbagi pengetahuan.

Pernah saya coba dekati tapi malahan saya yang jadi salah tingkah. Ngobrol-nya jadi kaku sekali. Maka, saya setop. Saya sebenarnya kasihan juga dan ingin bantu dia, tetapi tidak tahu bagaimana bicara sama dia.

Pertanyaan saya, apakah semua orang IT seperti itu? Saya pun ngeri dengan anak saya yang ada di SMA yang senang main komputer dan punya cita-cita masuk Teknik Komputer. Apa saran Bapak bagi para manager maupun orang tua seperti saya?

Jarot S, Bekasi

Jawaban

Pak Jarot serta para pembaca, memang pernah ada penelitian di sekitar tahun 1997 yang mengungkapkan bahwa orang-orang IT secara EQ jauh lebih rendah dibandingkan dengan profesi lainnya. Bahkan topik ini pun pernah dimuat di salah satu majalah bisnis yang diakui kredibilitasnya, Harvard Business Review.

Menurut isi artikel tersebut, ada beberapa tanda yang biasanya dijumpai pada orang IT yang menyebabkan mengapa mereka kemudian dianggap ber-EQ rendah. Namun, sebelum membaca lebih jauh tanda-tanda ini, tentunya hal ini lebih merupakan sebuah stereotipe daripada kenyataan yang sebenarnya.

Karena saya pun percaya, tidak berarti semua orang IT demikian. Bahkan, saya mengenal banyak teman di IT yang pergaulan sosial serta kariernya luar biasa. Jadi, hal ini sebaiknya tidak digeneralisasikan untuk semua orang IT.

Beberapa ciri pada orang IT yang kemudian dianggap EQ-nya kurang seperti: (1) orang-orang IT dianggap lebih banyak menggunakan IQ daripada EQ dalam pekerjaannya, (2) mereka lebih sulit berempati dan jarang menggunakan perasaannya dalam bertindak, (3) secara sosial pun orang IT lebih sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain, serta (4) orientasinya lebih banyak berhubungan dengan teknis (job) daripada manusia (people).

Hal ini diperparah lagi dengan berbagai realitas dan keluhan yang membuat orang IT dilabel demikian. Misalnya, kehidupan mereka yang berada di antara kotak komputernya. Bahkan, seorang istri pernah berkomentar soal suaminya, “Saat di depan komputer, itulah saat mereka di dunia mereka sesungguhnya”.

Faktanya, kehidupan sosial merekapun jadi kurang, karena kebanyakan hanya bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang seminat dan kurang berbaur dengan unit lain di kantor. Bahkan, beberapa diantaranya sulit memahami kebutuhan orang lain, sehingga sering terjadi konflik dengan unit lain karena beda persepsi.

Kurang fair

Namun, realitas lain juga terkadang menunjukkan ada sikap kurang fair terhadap rekan-rekan kita di IT. Berbagai perlakuan ‘khas’ dan kurang fair yang seringkali dialami rekan-rekan IT misalnya: mereka diperlakukan hanya sebagai trouble shooter, hanya kalau ada masalah. Saat segalanya berjalan lancar, tidak diapresiasi sama sekali.

Orang ITpun jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting, hanya soal-soal teknis saja baru mereka dilibatkan. Makanya, jangan heran kalau orang IT sering jadi kehilangan konteks dengan gambaran besar suatu proyek yang tengah dikerjakan.

Dan buruknya, para orang IT-un sering dicap nerd, dikotakkan dan ditinggalkan. Mereka kurang dirangkul, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam berbagai proyek penting di kantor. Maka, kondisi sosial mereka yang buruk pun kadang menjadi tanggung jawab kita pula.

Di sinilah saya ingin menekankan mengapa EQ justru menjadi sangat penting bagi orang IT dewasa ini. Pertama, IT merupakan fungsi yang sangat vital. Banyak informasi dan data penting dapat diakses oleh orang IT. Dari data keuangan perusahaan hingga data pribadi setiap karyawan.

Bayangkan jika karakter orang IT itu bermasalah, data-data tersebut bisa disalahgunakan untuk hal yang merusak. Kedua, orang-orang IT pun sebenarnya banyak bersinggungan dengan pihak lain. Tidak diragukan lagi, IT adalah support bisnis yang penting dewasa ini.

Tanpa memiliki EQ yang baik, orang IT akan jadi sering konflik dengan pihak lain. Ketiga, tentunya ini juga menjadi tantangan bagi orang IT sendiri. Berbagai stereotipe pada orang IT yang dipaparkan di atas justru akan menjadi tantangan bagi mereka untuk menepis semua stereotipe yang keliru itu.

Nah, hingga di sini kita menjawab pertanyaan: apa saran serta tips yang bisa diberikan kepada para orang IT ini? Pertama-tama, orang IT harus Get out of your box. Jangan hanya bicara soal IT saja. Saya selalu menyarankan agar mereka berusaha punya minat dengan bidang-bidang lain, khususnya yang lebih banyak berhubungan dengan otak kanan seperti seni dan hobi lain.

Inilah yang harus Anda sarankan pada anak Anda. Terlibatlah untuk mengajaknya memasuki hobi yang berbeda, yang mengasah otak emosinya. Selain itu, di pekerjaan pun orang IT sangat disarankan untuk mau tahu serta terlibat dengan bidang-bidang lain.

Selain soal IT, saya selalu menyarankan agar para IT guys berusaha membangun business sense mereka. Bukan hanya bicara soal teknis saja, mereka pun harus bisa berbicara dari bahasa dan sudut pandang para user sehingga mereka akan lebih disukai. Inilah sebenarnya kendala utamanya.

Di sisi lain, saya menyarankan mereka lebih banyak membaca, mendengar bahkan sesekali mengikuti seminar yang berusaha mengimbangi hal-hal teknis IT dengan hal-hal yang bersifat people skills.

Akhirnya, saya pun menyarankan orang-orang IT selalu berusaha mengetahui area-area dalam EQ yang masih kurang. Caranya, dengan meminta feedback dari orang lain dan berusahalah menutupi area yang kurang tersebut dengan komitmen mengembangkan diri yang lebih baik.

Nah, untuk Pak Jarot dan juga pembaca lainnya, libatkanlah rekan-rekan IT dalam berbagai pergaulan dan pertemuan, sehingga mereka pun belajar mengasah EQ serta business sense mereka.

Akhirnya, saya seringkali mengatakan bahwa “Yang menakutkan kita bukanlah komputer yang bisa berpikir seperti manusia, tetapi manusia yang pikirannya seperti komputer”.

Salah satu masalah komputer adalah mereka tidak berperasaan. So, tanggung jawab kita semua juga untuk mengembangkan orang IT yang ber-EQ tinggi!

Sumber
Bisnis Indonesia :Orang IT ber-EQ rendah?

Cukup 0.5 detik

Thursday, August 28th, 2008
Berapa lama waktu yang dibutuhkan Voucha3 Dashboard untuk load 6000 data customer (hasil import database Voucha II) dalam bentuk pohon downline di semua level? Jawab: cukup 500 ms (0.5 detik) saja. ) Spesifikasi komputer:
  • CPU AMD Athlon x64 1.8GHz (single core)
  • RAM 1GB
  • Hardisk Seagate 250GB SATA 7200 RPM
  • PostgreSQL 8.3.3
  • Voucha3 Dashboard 3.0.0.20
Silakan share pengalaman Anda di sini. voucha.net

Voucha3 Dashboard 3.0.0.20

Thursday, August 28th, 2008
Update Voucha3 Dashboard telah tersedia untuk didownload. Pengguna Voucha3 Dashboard 3.0.0.18 dan 3.0.0.19 disarankan menggunakan update ini. Update ini menyertakan perubahan pada:
  • Template Manager: System->Template
  • HLR LookUp: System->HLR LookUp
Untuk informasi lengkap, screenshot dan download silakan masuk link berikut: Download Voucha3 Dashboard 3.0.0.20 voucha.net

Voucha3 Device 3.0.0.18

Wednesday, August 27th, 2008
Voucha3 Device 3.0.0.18 telah tersedia untuk didownload. Device yang sudah ada memang telah mendukung beberapa jenis modem berbasis Wavecom dan iWOW. Namun update kali ini menyertakan perbaikan untuk kompatibilitas dengan modem berbasis iWOW seperti iTegno 3800. Untuk mendownload dan informasi selengkapnya, silakan masuk ke link berikut: Download Voucha3 Device 3.0.0.18 voucha.net

Syntax Test

Wednesday, August 27th, 2008

Testing


unit Ants;

interface

type

  TAnt = class(TObject)
  private
    FStatus: integer;
  public
    property Status: integer read FStatus write FStatus;
  end;

implementation

end.

Generalisasi, Konteks dan Fenomena

Tuesday, August 26th, 2008

Semua generalisasi itu berbahaya, termasuk pernyataan ini.
~Filsafat Ilmu, Jujun Suriasumantri

Pada posting sebelumnya, yang berjudul Bangsa yang serba bukan-bukan saya berangkat dari sebuah sudut pandang atau sebuah perspektif seorang manager (yaitu senior saya), kemudian membandingkan kesimpulan tersebut dengan perspektif lainnya yaitu sosial. Hasilnya memang aneh dan agak lucu. Aneh, karena rasanya ada kemiripan. Lucu, karena istilah “serba bukan-bukan” itu bisa nyambung.

Namanya juga sharing, ngobrol, ceritanya kan lagi konsultasi sama yang lebih senior. Tentu pembicaraannya jauh dari konteks teknis atau konteks bisnis. Karena yang dicari adalah nasihat, bukan juklak dan juknis. Hasilnya: sebuah generalisasi.

Kalau dihubungkan dengan konteks tertentu, ya belum tentu ada kesepakatan. Bisa benar, bisa salah. Beda lapangan masalahnya, ya beda juga penanganannya. Walaupun Hukum Newton itu sifatnya invariant (tetap berlaku) dalam Teori Relativitas, ada yang namanya transformasi Laplace dan Hamilton bukan?

Generalisasi berhubungan dengan relasi antar fenomena. Konteks berhubungan dengan kondisi awal, kondisi akhir, syarat batas, magnitude dan operator yang digunakan.

Fenomena? Ternyata bukan di Indonesia aja tuh. Di negeri asalnya, Amerika sono juga begitu. Di Malaysia pun begitu, di Australia pun begitu, di Inggris pun begitu.

Jangan lupa, cerita tersebut terjadi di era awal 90-an. So yesterday…

OK, ebonk. So what’s your point?

Saya akui posting sebelumnya itu memang generalisasi. Karena jika dibuat sesuai konteks masing-masing, lebih baik dibikin thesis aja kali ya.

Kalau tulisan itu menimbulkan persepsi lain, dianggap menjelek-jelekkan bangsa sendiri, ah… rasanya memang tidak mudah untuk obyektif , tapi mohon dimaafkan.

Terima kasih untuk semua komentarnya. Maju terus Indonesia!

Update Voucha3 Server

Tuesday, August 26th, 2008
Voucha3 Server versi 3.0.0.18 telah tersedia untuk didownload. Update terbaru ini menyertakan perbaikan untuk beberapa bug karena kompatibilitas yang ditemukan di versi sebelumnya. Untuk mendownload dan informasi lebih lanjut, silakan masuk ke link berikut: Download Voucha3 Server 3.0.0.18 voucha.net

Bangsa yang serba bukan-bukan

Monday, August 25th, 2008

If you think that technology can solve your security problems, then you don’t understand the problems and you don’t understand the technology. ~Bruce Schneier.

Bangsa ini punya kebiasaan yang unik. Tidak mau dibilang kapitalis, tapi tidak mau dibilang komunis juga. Tidak mau dibilang konservatif, tapi tidak mau dibilang radikal juga.

“Kita bukan barat, kita beda dengan barat”

“Kita bukan blok timur, kita non-blok”

Saya punya kisah dari seorang senior yang pernah bekerja di IBM. Pada awal periode 90-an, dia menawarkan produk software akunting buatan luar negeri untuk dijual di Indonesia. Yang namanya software akunting, pasti harus sesuai standar yang berlaku di sana dan mengikuti aturan yang ditetapkan yaitu Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).

Seorang client berminat dan membeli produk tersebut. Tapi setelah client tersebut melihat tampilan dan alur program tersebut, dia meminta software tersebut diubah. Mengapa?

  1. “Karena kita beda, mas! Kita ngga ikut standar yang ada”.
  2. “Tampilannya kurang sesuai dengan yang kita mau.”
  3. “Kita mau fitur-fitur ini dihilangkan, karena kita ngga pake”
  4. “Kebutuhan saya beda dengan orang lain, jadi harus diganti”

Akhirnya software tersebut “dimodifikasi” agar sesuai keinginan client tersebut. Tambah ini itu. Tampilannya dirombak sedemikian rupa. Fitur-fitur tertentu dirombak ulang, bahkan dicabut.

Apa yang terjadi?

Apakah sistem informasi akunting tersebut bisa bekerja sesuai keinginan client tersebut? Tidak. Justru sebaliknya, malah jadi ngga karuan. Dan proyek jadi buntu alias jadi dead project. Sampai akhirnya PC baru dengan sistem operasi Windows 95 muncul di pasaran, sistem tersebut belum bisa dijalankan.

Software memang produk teknologi. Teknologi yang dikerjakan dari proses, untuk proses dan oleh proses. Membuat software tidak seperti membuat nasi goreng. Anda bisa makan nasinya saja, tanpa bumbu, tanpa kerupuk, tanpa daging, tanpa telor.

Masalah muncul karena orang pesan “nasi goreng” ke pengembang software.

  1. “Saya mau tambah ini, besok udah selesai ya”
  2. “Tampilannya harus diganti, saya lebih suka pakai warna biru”
  3. “Kan tinggal tambah ini aja, gampang kan…”

Heyyyyyy…. mau pesan “nasi goreng” atau hamburger? Gampang gundulmu!

Proses yang berantakan: akhirnya software asal jadi, kualitas rendahan, lebih banyak bug daripada fungsi. Dan baik pengembang software dan clientnya bekerja lebih banyak hanya untuk memproduksi bug dari pada memproduksi software.

Hanya karena kita pengen beda. Karena kita bukan kapitalis, bukan komunis, bukan barat, bukan timur, bukan mereka, bukan siapa-siapa….

Akhirnya kita jadi bangsa yang serba bukan-bukan.

Voucha3 Device

Saturday, August 23rd, 2008
Update terbaru Voucha3 Device telah tersedia untuk didownload. Update ini menyertakan beberapa perbaikan, di antaranya:
  • Fix kompatibilitas dengan modem CDMA
  • Fix kompatibilitas dengan Windows Vista
Untuk mendownloadnya, silakan klik disini: Download Voucha3 Device. voucha.net

Pendaftaran Speedy Online

Saturday, August 23rd, 2008

Telkom Divre III Jawa Barat - Banten membuka layanan Pendaftaran Speedy Online dengan format yang lebih mudah dengan bahasa yang lebih ‘anak muda’.

Caranya, tinggal masukkan data Anda di form yang disediakan kemudian klik tombol ‘Pesan’ untuk memproses. Kemudian tunggu konfirmasi dari Telkom untuk proses selanjutnya. Gampang, kan?

Update Dashboard

Friday, August 22nd, 2008
Voucha3 Dashboard - RC2 (build 3.0.0.16) telah tersedia untuk didownload. Update ini menyertakan perbaikan pada fitur-fitur admin dan kompatibilitas dengan Windows Vista. Untuk mendownloadnya, klik di sini. voucha.net

Voucha3 Dashboard

Monday, August 11th, 2008

Voucha3 Dashboard versi desktop kini telah tersedia untuk didownload versi release candidate 1 (RC1). Jika Anda lebih suka dengan interface yang simpel dan cepat, versi desktop lebih memberikan banyak manfaat.

Informasi download Voucha3 Dashboard dan petunjuknya ada di sini.

voucha.net

Membuka Akses PostgreSQL ke Jaringan Lokal

Sunday, August 10th, 2008

PostgreSQL secara default hanya mengijinkan akses database dari localhost. Jika Anda ingin semua komputer di jaringan lokal dapat mengakses database PostgreSQL, begini caranya:

1. Edit file pg_hba.conf

Start->All Programs->PostgreSQL 8.3->Configuration files->Edit pg_hba.conf

2. Tambahkan baris berikut di file tersebut

host postgres all 192.168.1.0/24 md5

Kemudian simpan file tersebut

3. Reload configuration

Start->All Programs->PostgreSQL 8.3->Reload configuration

Selamat, sekarang Anda bisa mengakses database PostgreSQL dari seluruh host 192.168.1.x.

voucha.net

Pembatasan Wilayah Rugikan Diler Pelaku Bisnis Pulsa Elektrik di Malang Raya

Saturday, August 9th, 2008

MALANG - Pelaku bisnis pulsa elektrik produk dua operator seluler besar Telkomsel dan XL kini tak bisa meraup keuntungan besar. Ini karena kebijakan dua operator seluler besar tersebut yang membatasi wilayah penjualan pulsa elektrik.

Telkomsel menerapkan kebijakan outer, dan XL dengan kebijakan wilayah. Inti kedua kebijakan itu sama, yakni pembatasan penjualan pulsa, terutama ke luar wilayah di tingkatan diler. “Wah, keuntungannya sudah tidak menjanjikan lagi, tidak seperti dulu. Sejak diterapkan penurunannya sampai 70 persen. Angka seperti itu sangat berpengaruh sekali,” ungkap Ahmad Hadi, salah satu diler operator Telkomsel.

Dia mengatakan, kebijakan outer membuat diler tidak bisa lagi leluasa “membuang” barang ke luar. Padahal, rata-rata para diler memiliki jaringan pasar di luar Jawa. Terlebih, para diler pulsa di luar Jawa ini justru sangat menjanjikan. “Bagi kami kebijakan tersebut, jelas sangat merugikan dari segi bisnis,” ungkapnya.

Omzet penjualan turun drastis. Jika dulunya, dia bisa melayani pasar seperti Lampung bahkan sampai ke Papua. Namun, sekarang barang tersebut hanya bisa dijual di wilayah Jatim saja. Padahal, daya serap pasar luar Jawa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pasar di wilayahnya.

Mekanisme penjualan pulsa, kata Ahmad, dari operator kemudian ke diler, sub diler, outlet, baru sampai ke user. “Kami khawatir juga, kebijakan ini akan menimbulkan pelaku nakal. Pemodal besar khususnya, mereka bisa saja membeli sebanyak mungkin, tapi tidak langsung dilepas ke pasar. Dengan begitu, bukan tidak mungkin harga barang (pulsa akan melonjak),” ujarnya.

Pembatasan penjualan pulsa elektrik, tambah diler operator XL Andika, malah lebih sempit lagi. Operator menerapkan pembatasan wilayah. Di Malang misalnya, terbagi tiga wilayah, yakni A, B, dan C. Setiap diler wilayah hanya diperbolehkan memenuhi kebutuhan wilayahnya saja. Di luar wilayah tidak bisa.

“Penerapan kebijakan ini yang paling merasakan adalah diler yang memiliki pasar di luar Jawa. Kalau seperti saya ini tak begitu terasa, karena saya hanya mengembangkan pasar wilayah saja,” ujarnya.

Chandra, salah satu diler Telkomsel mengatakan daya beli para pelaku bisnis luar Jawa mendapatkan pulsa elektrik ke Jawa diakui tinggi. Sebab, harga kulakan jauh lebih miring dibanding mendapat barang di wilayah sendiri. Pulsa senilai Rp 100 ribu di tingkat diler Jawa dijual seharga Rp 93 ribu, tapi bisa dijual ke sub diler sampai Rp 97 ribu. Padahal, maksimal harga ke sub diler di Jawa maksimal Rp 95 ribu. (hap/lia)

Sumber: Radar Malang

Masalah Web Report Indosat SEV

Friday, August 8th, 2008

Web report Indosat SEV tidak menampilkan data mulai tanggal 1 Agustus 2008. Apakah ini karena bug?

Kuper

Wednesday, August 6th, 2008

(Vibiznews - Strategic) - Jakarta, Seorang direktur utama terkenal sebuah Badan Usaha Milik Negara sangat besar di negri ini pernah berujar bahwa karyawan-karyawannya “kuper”. Saya agak maklum karena dirut ini bukanlah orang karier di perusahaan itu, melainkan diimport dari luar. Lagipula ia sudah banyak makan asam garam memimpin sejumlah perusahaan yang berbeda-beda.

Dibilang begitu tentu ada banyak orang yang tidak terima.

“Ini perusahaan besar, jangan main-main,” ujar seorang senior yang sangat dihormati di sana menolak ucapan itu.

Yang lain melanjutkan: “Emangnya dia pernah punya portfolio sebesar perusahaan ini? Jelas berbeda lah.”

Singkatnya mereka tidak terima.

Begitulah manusia memang cenderung menyangkal terhadap fakta-fakta baru yang mereka dengar. Faktanya sangat benar, mayoritas orang-orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar, kemungkinan besar memang kuper (kurang pergaulan).

Bagaimana tidak?

Waktu mereka 95% dihabiskan di dalam perusahaan. Pulang-pergi adalah dari dan ke kantor yang sama. Tugas ke luar kota juga begitu. Begitu mendarat di bandara, mereka langsung dijemput protokol kantor. Jadi bergaul dengan sopir taxi saja tidak ada waktunya. Rapat, seminar, makan siang atau makan malam, pun dilakukan beramai-ramai dengan rekan kantor. Di kantor disediakan pula band pengiring untuk makan siang, sehingga siapa saja boleh bernyanyi di sana. Main tennis juga bisa di mess kantor. Bahkan tak jarang pula yang rumahnya disediakan kantor pada area tertutup untuk orang-orang lain.

Cobalah tengok ke dalam (perusahaan) dengan tatapan yang lebih halus. Spouses (pasangan, suami atau istri mereka) ternyata juga ditemukan (berjodoh) di kantor. Kasus-kasus perselingkuhan juga ditemui pada
rekan-rekan kerja. Dan yang lebih menarik lagi, semua orang betah bekerja di kantor: turn-over karyawan sangat rendah, rata-rata usia karyawan di atas kepala empat dan promosi jabatan semuanya berasal dari
dalam.

Implikasinya sangat jelas, organisasi menjadi tertutup dari dunia luar. Semua orang hanya membicarakan diri mereka sendiri, yaitu karier pribadi dan karier teman-temannya, fasilitas yang mereka terima, rezeki masing-masing, serta memperolok teman-teman yang tampak berbeda. Mereka memperolok orang yang bekerja lebih tekun dari mereka, atau mempunyai harta yang lebih banyak. Kalau ada yang rela pulang lebih larut malam dianggap sebagai penghianat dari pada prestasi. Kalau bos dekat dengan salah satu orang yang bukan anggota paguyuban mereka, akan segera disikat.

Banyak orang yang berkata bahwa orang lain tidak jujur, padahal kata-kata itu cuma refleksi dari perbuatannya sendiri. Mereka mudah tersinggung, senang ngomong negatif di belakang, tidak berani terus terang, senang menghambat orang-orang berprestasi, dan menganggap diri merekalah yang paling bermoral.

Fakta sesungguhnya: Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi di luar sana. Mereka hanya ngomel-ngomel, tapi tahukah mereka bahwa mereka sesungguhnya orang yang paling dikeluhkan?

Tentu saja masih ada orang yang tidak demikian pada lembaga-lembaga bernama besar. Mereka kerja keras, banyak gaul keluar dan berpotensi jadi pemimpin. Namun mereka sering terpinggirkan.

Fakta-fakta ini adalah persoalan terbesar dalam perubahan. Orang-orang yang tidak pernah melihat cahaya akan merasa terganggu manakala seorang membuka jendela di ujung sana. Mereka segera berteriak-teriak minta ditutup. Mereka mengabaikan pasar, mereka merasa diri merekalah yang paling tahu. Padahal mereka sedang ditinggalkan dan bahkan ditertawakan oleh pasar (konsumen).

Solusinya sederhana sekali: Buka semua jendela yang ada agar hawa segar segera masuk, nyalakan lampu-lampu yang telah lama di matikan, lalu buka pintu lebar-lebar dan biarkan orang-orang di luar masuk ke sini, dan biarkan mereka yang di dalam ikut bermain di luar. Lalu buka pelatihan-pelatihan ke luar, biarkan pelatihan-pelatihan Anda diikuti karyawan/eksekutif dari luar kantor Anda. Buat semua orang bergaul, dan hapuskan fasilitas-fasilitas paguyuban agar mereka semua mau juga bergaul di luar.

Setelah itu bongkar struktur organisasi yang tertutup, perbaiki budaya organisasi dan lindungi orang-orang baru agar tidak menjadi sama dengan orang-orang lama. Pergaulan luas adalah modal penting untuk menafsirkan evolusi. Sesuatu yang berubah tak dapat dipahami oleh orang-orang yang hanya sembunyi dalam tempurungnya masing-masing. Pergaulan luas akan mengangkat rasa percaya diri dan membuang prasangka-prasangka negatif. Lihatlah mereka akan kegerahan dan berteriak-teriak. Tapi itulah kesempatan yang terakhir bagi mereka untuk melakukan itu.

Selamat menimbulkan kekacauan, untuk kebaikan.

Disalin dari http://vibiznews.com/

Validasi Kartu Prabayar: Hanya 30% Yang Valid

Friday, August 1st, 2008

Jumlah pelanggan meningkat, tapi pendapatan menurun. Kalau melihat kasus ini dan perkembangan kasus validasi kartu prabayar sampai sekarang, saya jadi bertanya-tanya: Bagaimana sebenarnya posisi pasar sekarang, siapa market leader? Apakah operator tidak tahu perilaku konsumen kita suka gonta-ganti nomor? Dan ketika pangsa pasarnya turun dan pendapatan turun, karena tarif interkoneksi yang turun?

Atau ada sebab lain?

Pelanggan Meningkat tapi Pendapatan Menurun

“Penurunan laba dipicu antara lain merosotnya pendapatan dari layanan seluler anak perusahaan Telkomsel,” kata Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah, seperti dikutip detikINET, Jumat (1/8/2008) dari hasil paparan kinerja keuangan Telkom kuartal II 2008.

Meski dari sisi jumlah pelanggan Telkomsel mencatat kenaikan 22% menjadi 52,4 juta nomor seluler dari sebelumnya 42,8 juta. Penurunan pendapatan Telkomsel sebagai konsekuensi dari turunnya tarif layanan selama semester I 2008. Tarif percakapan suara turun sebesar 30%, sedangkan tarif pesan pendek (SMS) terjun bebas 70%.(Sumber: Pendapatan Telkomsel Turun, Laba Telkom Merosot)

Akibat Tarif Interkoneksi Turun?

Turunnya pendapatan Telkomsel disebut-sebut sebagai dampak dari kebijakan pemerintah yang menurunkan tarif interkoneksi sejak 1 April 2008 lalu. Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja menimpali, perang tarif antaroperator akibat penurunan interkoneksi tersebut salah satu pemicu menurunnya pendapatan hampir seluruh operator.

Imbasnya, bagi Telkomsel, pendapatan layanan pascabayar Kartu Halo merosot 15%, sedangkan pendapatan dari jasa SMS turun hingga 26%. “Pangsa pasar Telkomsel menurun, karena memang karakteristik pasar seluler saat ini berbeda dengan periode-periode sebelumnya,” tutur Kiskenda.

Sementara, menurut Rinaldi, biaya operasional yang meningkat sekitar 15% dari Rp 15,5 triliun menjadi Rp 17,7 triliun dipengaruhi melonjaknya pos biaya operasional dan perawatan jasa telekomunikasi, biaya depresiasi, biaya pemasaran dan biaya gaji karyawan. (Sumber: Pendapatan Telkomsel Turun, Laba Telkom Merosot)

Tapi menurut Saya, inilah akar masalah yang sebenarnya.

Angkanya Tidak Valid!

Tingginya angka registrasi kartu prabayar yang tidak valid dan tingginya angka konsumen yang gonta-ganti nomor. Operator hanya tahu jumlah nomor yang teregistrasi, namun tidak tahu jumlah nomor yang masih valid, apalagi jumlah nomor yang masih aktif.

Baru 30% atau sejumlah 32.491.599 orang dari total pengguna ponsel sebanyak 106.701.141 yang tervalidasi oleh para operator telekomunikasi. (Sumber: Baru 30% Pengguna Ponsel yang Tervalidasi Operator)

Persentase validasi kartu prabayar keluaran PT Indosat, PT Telkom, PT Natrindo Telepon Seluler (NTS), PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI), dan PT Smart Telecom di atas 80%. Sedangkan validasi kartu prabayar keluaran PT Telkomsel cuma 11%, PT Excelcomindo Pratama (EP) 0,09%, dan PT Bakrie Telecom 25,6%. Demikian dikatakan Kepala Bagian Umum dan Humas Ditjen Postel Gatot S Dewa Broto dan anggota BRTI Heru Sutadi di Jakarta, Kamis (17/7).(Sumber: DITJEN POSTEL DAN BRTI SIDAK, Registrasi Asal-asalan, Kartu Prabayar Diblok)

“…Dalam kenyataannya, ditemu-kenali, bahwa banyak yang sekedar membeli kartu dan langsung dapat aktif, karena sudah diregistrasi langsung oleh pihak kios penjual voucher yang bersangkutan melalui pengisian data secara sembarangan dengan alasan supaya tidak komplikated dan lekas terjual. Kemudian ada juga kejadian dimana expert asing dari Ditjen Postel tersebut tidak perlu menunjukkan KITAS (Kartu Izin Tinggal Sementara) ataupun Passport dan ternyata langsung dapat melakukan aktivasi….”(Sumber: Hasil Pengecekan Lapangan Terhadap Verifikasi dan Validasi Kartu Prabayar)

“Hasilnya, dari hampir 95 juta nomor yang teregister sebagai jumlah total pelanggan dari 8 operator di Indonesia, hanya 30 juta nomor yang tervalidasi. Angka ini merupakan jumlah akhir yang terkumpul pada kuartal pertama tahun 2008.” (Sumber: Prabayar: Registrasi 95jt, Valid Hanya 30jt)

Data dari Dijten Postel

No.

Nama Perusahaan

Jumlah Pelanggan

Teregistrasi

Tervalidasi

1.

PT Telkomsel

(31 Maret 2008)

49.455.000

49.455.000

5.600.000

2.

PT Indosat

(29 Pebruari 2008)

23.945.431

23.945.431

20.464.835

3.

PT Excelcomindo Pratama

(29 Pebruari 2008)

14.987.561

14.987.561

13.667

4.

PT NTS

(29 Pebruari 2008)

35.935

35.935

35.935

5.

PT HCPT

(29 Pebruari 2008)

2.169.856

2.169.856

1.718.764

6.

PT Mobile-8 Telecom

( 30 April 2008)

3.078.569

3.078.569

1.798.458

7.

PT Sampoerna TI

(29 Pebruari 2008)

405.287

405.287

325.869

8.

PT Smart Telecom

(29 Pebruari 2008)

200.949

200.949

200.949

Total

94.077.639

94.077.639

29.957.528

Sedangkan data penyelenggara FWA:

No.

Nama Perusahaan

Jumlah Pelanggan

Teregistrasi

Tervalidasi

1.

PT Indosat

(29 Pebruari 2008)

594.203

594.203

540.725

2.

PT Telkom

(28 April 2008)

6.078.822

6.078.822

5.470.940

3.

PT Bakrie Telecom

(29 Pebruari 2008)

4.456.663

4.365.134

1.143.621

Total

11.129.688

11.038.159

7.155.286

Bandingkan dengan data tahun sebelumnya, 25 Juli 2007 di sini:

Kira-kira, apa yang akan dilakukan oleh para investor terhadap kasus ini?