Archive for the ‘catatan-kecil’ Category
Cari Tempat Baru
Thursday, July 10th, 2008Paranoid
Thursday, July 10th, 2008Manusia Inflasi
Friday, June 20th, 2008“Baja yang jelek tidak akan bisa kamu buat tajam”. ~Mafia Manager
Menjadi personel di United Coders, kamu akan mengalami serangkaian proses. Proses ini sering diistilahkan sebagai penggemblengan, pendidikan, pembelajaran, atau istilah semacamnya. Dan rangkaian proses ini tentu berbeda untuk tiap orang atau individu, karena karakter tiap individu yang berbeda-beda. Namun pada prinsipnya sama, yaitu TRANSFORMASI.
Transformasi berasal dari kata “to transform” yang artinya “mengubah”. Transformasi dikatakan terjadi jika ada yang berubah dari proses tersebut atau dengan kata lain, ada perubahan sifat, perubahan bentuk, perubahan makna, dan lain-lain.
Tentu, yang kami inginkan adalah kamu menjadi manusia yang unggul, manusia yang maju, baik dalam segi mental, spiritual bahkan finansial. Tidak peduli apakah kamu seorang programmer, analyst, system administrator, technical support, bahkan office boy.
Syarat mutlak untuk berhasil di United Coders adalah kemauan yang kuat, bekerja dengan makin efektif, dan keyakinan yang kuat. Sebab tanpa itu semua, kamu tidak akan pernah menjalani proses-proses transformasi itu.
Buat apa kamu bekerja di United Coders jika kamu tidak mengalami perubahan?
Buat apa kamu pindah dari kantor yang lama, jika kamu tidak mendapatkan kemajuan?
Buat apa kamu memeras pikiran dan tenaga jika kamu tidak makin maju?
Orang yang maju adalah orang yang selalu meningkatkan kualitasnya terus menerus. Jika ia seorang programmer maka ia melatih dirinya dengan teknik-teknik yang baru, dengan menulis algoritma yang makin efisien, menciptakan model yang lebih efisien, dan lain-lain. Jika ia seorang staff technical support, ia menjadi maju dengan mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan para klien.
Tanpa mengembangkan diri, kamu akan menjadi manusia inflasi. Mengapa inflasi? Karena usia kamu akan makin bertambah, sementara kemampuan kamu tidak bertambah, alhasil penghasilan kamu juga pasti segitu-gitu aja. Mungkin ada kenaikan gaji, tapi itu hanya penyesuaian terhadap inflasi tahunan.
Manusia inflasi ini disebut dengan “baja yang jelek” di buku Mafia Manager. Dengan mudah, kamu dapat menemukan manusia inflasi ini di lembaga pemerintah, kantor walikota, kantor-kantor BUMN, dan lain-lain. Mereka useless, hopeless, dan tentu saja FUTURELESS. Hampir 80 persen pegawai dinas pajak di Amerika Serikat termasuk kategori ini. Mayoritas pekerja di kantor pos kita bekerja dengan lamban.
Jangan salah, orang yang pintar juga bisa menjadi manusia inflasi. Mengapa demikian? Ada salah satu sikap yang mengubah seseorang menjadi manusia inflasi, yaitu tidak mau belajar. Sikap tidak mau belajar muncul karena merasa paling pintar, paling berpengalaman, paling mengetahui persoalan, paling jago, dll. Dengan merasa paling pintar, kamu akan merasa tidak perlu mendengarkan pengalaman orang lain. Artinya, kamu menolak informasi baru, menolak realitas baru, menolak stimulus baru, menolak inspirasi baru, dan itulah sebabnya kamu tidak berkembang.
Agar kamu menjadi manusia yang maju, buang sikap tersebut. Tidak ada cara yang terbaik, selalu ada cara yang lebih baik. Itulah salah satu cara memanusiakan diri di organisasi kita.
Sebab United Coders sejati adalah orang yang mampu memanusiakan dirinya dan orang lain.

Menyangkal Realita Baru
Friday, June 20th, 2008Oleh: Rhenald Kasali
Saya mohon maaf harus absen mengisi kolom ini beberapa kali. Sejak buku Change beredar, Saya terpaksa harus mempertanggung -jawabkan pemikiran-pemikiran Saya kepada publik. Banyak kisah nyata tentang perubahan yang Saya temui dan tentu saja ribuan curhat dari mereka yang rela dicaci-maki demi perubahan.
Menjadi Change Maker memang tidak mudah. Surat kaleng, SMS palsu, fitnah, sampai upaya-upaya fisik yang mematikan kerap harus dihadapi. Kepada kelompok ini, Saya hanya bisa mengatakan, Gandhi saja yang wajahnya begitu baik dan perilakunya menyejukkan, mereka bunuh, apalagi Anda yang bukan siapa-siapa.
Persoalan terbesar manusia di era yang berubah ini sebenarnya hanya satu, yaitu tidak berani menerima realita-realita baru. Sebagian besar karyawan, eksekutif dan birokrat yang Saya temui masih terbelenggu pada kisah sukses di masa lalu. Mereka berpikir solusi yang mereka temukan di masa lalu itulah solusi yang sesungguhnya.
Buktinya ada, yaitu bonus dan kesejahteraan. Makan siang disediakan dan karyawan bisa bergantian memainkan alat musik. Mengapa kita tidak pakai cara yang sama untuk mengatasi masalah hari ini? Seperti menemui jalan buntu, banyak orang yang tiba-tiba mulai menggunakan kata “Dulu ……” ketika memulai pembicaraannya untuk mengacu ke masa lalu.
Sinar terang yang menyinari suatu usaha bisa berarti manfaat, tapi juga bisa menjadi mudharat. IBM contohnya, sukses dengan komputer mainframe di tahun 70′an membuatnya menyangkal realita baru pasar PC. Motorola bahkan lebih gawat lagi. Setelah sukses dengan celluler analog, ia menyangkal kehadiran digital handphone dengan melakukan investasi-investasi baru pada bidang analog. Xerox juga sempat terengap-engap saat menyangkal kenyataan munculnya pasar personal-copier yang dirilis Minolta, Canon dan Ricoh. Ensiklopedia Britanica juga menyangkal realita baru membaca buku pintar yang diputar oleh Microsoft (Encarta).
Di Indonesia sendiri ada ribuan pelaku usaha yang juga menyangkal realita-realita baru. Teman-teman di perkebunan teh tengah menyangkal kenyataan bahwa masyarakat dunia sudah mulai minum teh tanpa daun teh sama sekali. Sekarang ini, pergulatan terbesar justru tengah dihadapi universitas-universitas negeri. Ada demikian banyak realita-realita baru yang bermunculan dan mereka terus berdebat dengan menggunakan ukuran-ukuran lama untuk menilai hari esok. Mereka menggunakan pengalaman-pengalaman lamanya kala bersekolah yang penuh dengan kesulitan untuk dibingkaikan pada generasi baru yang bergerak dengan cara yang berbeda. Padahal kepada mereka, Albert Einstein pernah menyatakan, “the measure of intelligence is the ability to change” (ukuran kecerdasan Anda adalah kemampuan Anda untuk berubah, menerima kenyataan baru).
Sulit dibayangkan dewasa ini masih ada banyak orang yang hidup di jaman kemarin dan dibiarkan terus mengepalai kegiatan untuk membawa organisasi ke masa lalu, tetapi semua ini juga terjadi karena organisasi dibiarkan dikuasai oleh kalangan “pedalaman” yang sepanjang hari menghabiskan waktunya di dalam kantor tanpa berinteraksi dengan dunia luar sama sekali.
Dalam setiap institusi kita dengan mudah membedakan, mana kalangan “pedalaman” dan mana yang “pesisir”. Kalangan pesisir selalu berinteraksi dengan dunia luar, tetapi ia banyak membawa hal-hal baru. Ia lebih mudah menerima fakta-fakta baru. Sebaliknya kalangan pedalaman cenderung memelihara tradisi. Seorang usahawan senior membisiki Saya, sekarang ini, katanya, “tradition is a number one killer!”. Saya pikir ini ada betulnya.
Disalin dari http://www.careplusindonesia.com

Catastrophe Disentanglement
Thursday, June 5th, 2008Saya menemukan petunjuk ini dari buku review buku Catastrophe Disentanglement: Getting Software Projects Back on Track. Sangat bermanfaat untuk menjaga keberlangsungan software development.
- Evaluate where your project really stands
- Align your project’s developers, managers, and customers
- Define the minimum acceptable project goals that are achievable
- Replan your project to successfully deliver the new minimum goals
- Identify risks in your revised project and create effective contingency plans
- Install an “early warning system” to keep your rescued project from slipping back toward catastrophe.


